Sejarah Perjuangan Para Utusan Allah

Jika ditelusuri, kisah para nabi dalam kitab-kitab suci memiliki alur yang menarik untuk dicermati: masing-masing menghadapi tahapan perjuangan yang, dalam banyak hal, memiliki pola serupa—meski berlangsung di zaman dan tempat yang berbeda-beda. Dalam pemahaman Millah Abraham, pola berulang ini dipandang sebagai bagian dari satu tradisi yang sama, yang disebut enam masa perjuangan risalah atau sittati ayyām.

Landasan yang dirujuk

Taurat — Keluaran 20: 11

כִּי שֵׁשֶׁת־יָמִים עָשָׂה יְהוָה אֶת־הַשָּׁמַיִם וְאֶת־הָאָרֶץ אֶת־הַיָּם וְאֶת־כָּל־אֲשֶׁר־בָּם וַיָּנַח בַּיּוֹם הַשְּׁבִיעִי עַל־כֵּן בֵּרַךְ יְהוָה אֶת־יוֹם הַשַּׁבָּת וַיְקַדְּשֵׁהוּ׃ ס

Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Perjanjian Baru — Ibrani 4: 4

ειρηκεν γαρ που περι της εβδομης ουτως και κατεπαυσεν ο θεος εν τη ημερα τη εβδομη απο παντων των εργων αυτου

Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.”

Al Quran – As-Sajdah [32]: 4

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Enam Tahapan yang Dipahami Berulang

Secara umum, dalam pemahaman ini, keenam tahapan tersebut meliputi: dakwah secara tertutup atau selektif kepada orang-orang terdekat; dakwah secara terbuka kepada khalayak yang lebih luas; masa hijrah atau berpindah tempat ketika tekanan dari lingkungan sekitar meningkat; masa perjuangan mempertahankan keyakinan; masa diperolehnya penerimaan yang lebih luas; hingga akhirnya masa tertatanya kembali kehidupan bersama berdasarkan nilai-nilai yang diperjuangkan sejak awal. Pola ini, menurut keyakinan komunitas ini, dapat ditelusuri jejaknya pada perjalanan dakwah Nabi Musa, Yesus, maupun Nabi Muhammad, meski dengan detail sejarah yang berbeda-beda sesuai konteks zamannya.

Ujian yang Menyertai Setiap Risalah

Salah satu benang merah yang konsisten muncul dalam kisah-kisah tersebut adalah penolakan yang kerap dihadapi setiap pembawa berita atau risalah pada masa-masa awal perjuangannya. Nabi Musa, misalnya, dikisahkan menghadapi penolakan dari kaumnya sendiri sebelum akhirnya kepemimpinannya diterima secara luas. Pola serupa juga dipahami terjadi pada masa-masa awal dakwah Nabi Muhammad, sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa dakwah beliau mula-mula dilakukan secara terbatas kepada orang-orang terdekat, sebelum kemudian disampaikan secara terbuka.

Dalam pemahaman Millah Abraham, kisah-kisah ini tidak dibaca sekadar sebagai catatan sejarah masa lalu, melainkan sebagai cermin bagi siapa pun yang memperjuangkan nilai kebenaran di tengah tekanan zamannya—bahwa ujian dan penolakan pada masa-masa awal bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses yang lazim menyertai perjuangan semacam itu.

Warisan yang Terus Direnungkan

Secara historis, catatan tentang keruntuhan pusat kekuasaan yang pernah dibangun berlandaskan nilai-nilai kenabian—misalnya keruntuhan Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1258 Masehi akibat serangan pasukan Hulagu Khan—kerap dijadikan bahan renungan tentang betapa rapuhnya sebuah tatanan jika nilai-nilai yang menopangnya mulai ditinggalkan. Peristiwa semacam ini dipahami komunitas Millah Abraham sebagai pengingat, bukan sebagai bahan nostalgia yang meratapi kejayaan masa lalu.

Kabar baik yang dapat dipetik dari rangkaian sejarah ini adalah bahwa setiap masa sulit dalam perjalanan risalah kenabian senantiasa diikuti oleh babak baru perjuangan—sebuah pola yang, dalam pemahaman ini, menumbuhkan harapan bahwa nilai-nilai kebenaran tidak pernah benar-benar padam, sekalipun mengalami masa surut untuk sementara waktu. Adapun peringatan yang dapat direnungkan adalah bahwa kejayaan sebuah peradaban tidak dapat dipertahankan hanya dengan mengenang romantisme masa lalu, melainkan dengan kesungguhan merawat nilai-nilai yang menjadi fondasinya.

Uraian di atas disampaikan sebagai gambaran atas cara pandang internal komunitas Millah Abraham terhadap sejarah risalah kenabian, disusun dari sumber-sumber yang mereka yakini. Pembaca yang berminat menelusuri lebih jauh dipersilakan melakukannya sesuai penilaian dan keyakinan masing-masing.

Bagikan

Artikel Terkait

Sejarah Perjuangan Para Utusan Allah

Jika ditelusuri, kisah para nabi dalam kitab-kitab suci memiliki alur yang menarik untuk dicermati: masing-masing menghadapi tahapan perjuangan yang, dalam

Millah Abraham Bukan Sinkretisme

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada komunitas Millah Abraham adalah: bukankah mengakui Taurat, Injil, dan Al-Quran sekaligus sebagai