Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada komunitas Millah Abraham adalah: bukankah mengakui Taurat, Injil, dan Al-Quran sekaligus sebagai bagian dari satu jalan kebenaran berarti mencampuradukkan agama-agama yang berbeda—yang lazim disebut sinkretisme? Pertanyaan ini wajar muncul, dan penting untuk dijawab dengan jernih agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam pemahaman komunitas ini, sinkretisme dimaknai sebagai upaya mencampuradukkan ritual, ajaran, atau praktik ibadah dari berbagai tradisi keagamaan menjadi satu bentuk baru. Sementara itu, pengakuan terhadap Taurat, Injil, dan Al-Qur’an sebagai kesaksian sejarah yang berasal dari satu rangkaian kenabian dipahami berbeda—ia dilihat sebagai upaya menelusuri kembali akar bersama, bukan mencampur tata cara ibadah masing-masing tradisi.
Ajakan untuk Kembali kepada Sumber
Injil — Matius 5: 17 – 18
μη νομισητε οτι ηλθον καταλυσαι τον νομον η τους προφητας ουκ ηλθον καταλυσαι αλλα πληρωσαι αμην γαρ λεγω υμιν εως αν παρελθη ο ουρανος και η γη ιωτα εν η μια κεραια ου μη παρελθη απο του νομου εως αν παντα γενηται
17“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Al Quran – Al-Mā`idah [5]: 68
قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَسۡتُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
Dalam pemahaman Millah Abraham, ayat ini dipahami sebagai ajakan agar setiap pemegang kitab suci—termasuk umat Yahudi, Nasrani, dan Muslim—kembali menelaah sumber ajarannya masing-masing secara sungguh-sungguh, bukan sekadar mewarisi tradisi secara turun-temurun tanpa penelusuran yang mendalam. Ajakan semacam ini, menurut keyakinan komunitas ini, pernah pula disampaikan Yesus kepada murid-muridnya dan Nabi Muhammad kepada Ahli Kitab pada masanya sebagai bentuk dialog, bukan sebagai penghakiman.
Perbedaan Akar Bersama dan Pencampuran Ajaran
Bagi komunitas Millah Abraham, mengkaji dan mempelajari kitab-kitab suci lintas tradisi bukanlah tindakan yang dilarang, apalagi dianggap sebagai pencampuran agama. Yang menjadi pembeda, dalam pemahaman ini, adalah niat dan tujuannya: mempelajari untuk memahami kesinambungan sejarah kenabian secara utuh berbeda dengan mencampur adukkan ritual dan keyakinan berbagai tradisi menjadi satu bentuk ibadah baru.
Komunitas ini menegaskan bahwa mereka tidak membawa misi salah satu agama formal tertentu, dan tidak berniat menodai ajaran agama mana pun. Yang mereka yakini dan perjuangkan, sebagaimana dipahami secara internal, adalah upaya menyerukan kembali kepada nilai ketundukan yang mereka yakini sebagai inti dari seluruh risalah kenabian sepanjang sejarah.
Kabar baik dari cara pandang ini adalah terbukanya ruang bagi dialog lintas iman yang lebih tenang dan substantif, sebab titik berangkatnya bukan pada perdebatan mana yang paling benar, melainkan pada penelusuran bersama atas akar sejarah yang saling terhubung. Namun demikian, ada pula peringatan yang perlu digarisbawahi: keterbukaan mempelajari sumber lain bukan berarti menyamaratakan seluruh perbedaan yang ada. Dalam pemahaman ini, mengenali akar bersama tetap berbeda dengan meniadakan identitas dan kekhasan masing-masing tradisi.
Pemaparan ini disampaikan sebagai penjelasan atas keyakinan internal komunitas Millah Abraham perihal posisi mereka terhadap tuduhan sinkretisme, dan bukan dimaksudkan untuk menilai atau membandingkan keyakinan pihak lain. Pembaca dipersilakan menimbang sendiri sesuai keyakinan masing-masing.