Hukum Pergiliran dan Ajal Kekuasaan

Sejarah dunia mencatat pola yang berulang: sebuah bangsa atau kekuasaan lahir, tumbuh, mencapai masa keemasan, lalu perlahan surut dan digantikan oleh kekuatan yang lain. Pola ini bukan hal baru—ia telah menjadi bahan renungan banyak pemikir dan kitab suci lintas zaman. Dalam pemahaman Millah Abraham, pola tersebut dipandang bukan sekadar kebetulan sejarah, melainkan bagian dari tatanan yang disebut sunnatullah, yakni ketetapan Allah atau tradisi Allah yang berlaku tetap dan tidak pernah berubah.

Tiga Prinsip yang Dirujuk

Dalam pemahaman ini, setidaknya ada tiga prinsip yang dipegang untuk memahami pola tersebut. Pertama, prinsip ajal, yaitu bahwa setiap kekuasaan memiliki batas waktu yang telah ditetapkan (Al Kitab – Daniel 2: 21, Injil – Kisah Para Rasul 17: 24 – 27, Al Quran – Al-A‘rāf [7]: 34). Kedua, prinsip azwaj atau kesepasangan, bahwa setiap keadaan—termasuk kejayaan dan kemunduran—senantiasa berpasangan dan bergantian (Taurat – Kejadian 1: 14 – 19, Injil – Yohanes 9: 4, Al Quran – Yā Sīn [36]: 36). Ketiga, prinsip mudāwalah atau pergiliran, bahwa masa kejayaan sebuah bangsa pada waktunya akan digilir dengan masa kejayaan bangsa yang lain.

Landasan yang dirujuk tentang prinsip pergiliran:

Tanakh — Pengkhotbah 3: 1 – 8

לַכֹּל זְמָן וְעֵת לְכָל־חֵפֶץ תַּחַת הַשָּׁמָיִם׃ ס עֵת לָלֶדֶת וְעֵת לָמוּת עֵת לָטַעַת וְעֵת לַעֲקוֹר נָטוּעַ׃ עֵת לַהֲרוֹג וְעֵת לִרְפּוֹא עֵת לִפְרוֹץ וְעֵת לִבְנוֹת׃ עֵת לִבְכּוֹת וְעֵת לִשְׂחוֹק עֵת סְפוֹד וְעֵת רְקוֹד׃ עֵת לְהַשְׁלִיךְ אֲבָנִים וְעֵת כְּנוֹס אֲבָנִים עֵת לַחֲבוֹק וְעֵת לִרְחֹק מֵחַבֵּק׃ עֵת לְבַקֵּשׁ וְעֵת לְאַבֵּד עֵת לִשְׁמוֹר וְעֵת לְהַשְׁלִיךְ׃ עֵת לִקְרוֹעַ וְעֵת לִתְפּוֹר עֵת לַחֲשׁוֹת וְעֵת לְדַבֵּר׃ עֵת לֶאֱהֹב וְעֵת לִשְׂנֹא עֵת מִלְחָמָה וְעֵת שָׁלוֹם׃ ס

1Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. 2Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; 3ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; 4ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; 5ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; 6ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; 7ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; 8ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Injil — Lukas 1: 52 – 53

καθειλεν δυναστας απο θρονων και υψωσεν ταπεινους πεινωντας ενεπλησεν αγαθων και πλουτουντας εξαπεστειλεν κενους

52Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Al Quran — Āli ‘Imrān [3]: 140

وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).

Cermin dari Kisah-Kisah Masa Lalu

Dalam pemahaman komunitas ini, kisah para nabi—mulai dari generasi Adam, Nuh, Musa, Isa, hingga Muhammad—dibaca sebagai rangkaian ilustrasi dari pola yang sama: setiap generasi membangun tatanan hidup yang tertata, mengalami masa kejayaannya, namun pada akhirnya turut mengalami masa surut ketika nilai-nilai yang menopangnya mulai ditinggalkan. Pola pasang-surut ini dipahami bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap kekuasaan mengemban tanggung jawab moral yang harus terus dijaga.

Cara pandang ini mengajak setiap orang, lintas zaman dan lintas keyakinan, untuk merenungkan kembali hubungan antara keadilan, integritas, dan keberlangsungan sebuah kekuasaan. Sejarah, dalam pemahaman ini, bukanlah sekadar catatan peristiwa yang telah berlalu, melainkan cermin bagi generasi masa kini untuk menilai kembali landasan nilai yang mereka pegang.

Kabar baik dari pemahaman ini adalah bahwa keruntuhan sebuah tatanan bukanlah akhir dari segalanya. Selama nilai-nilai kebaikan terus diperjuangkan, peluang untuk membangun kembali tatanan yang lebih baik senantiasa terbuka—sebagaimana pola yang berulang dalam kisah-kisah masa lalu. Sebaliknya, peringatan yang dapat dipetik adalah bahwa kekuasaan mana pun, tanpa memandang zaman atau golongan, yang mengabaikan nilai keadilan dan amanah cenderung tidak bertahan lama. Ini adalah pelajaran yang bersifat universal, bukan tudingan terhadap pihak tertentu.

Uraian di atas merupakan bagian dari kerangka nilai yang diyakini komunitas Millah Abraham dalam memandang perjalanan sejarah kekuasaan. Ia disampaikan sebagai bahan renungan bersama, bukan sebagai vonis atas peristiwa politik tertentu yang tengah berlangsung.

Bagikan

Artikel Terkait

Sejarah Perjuangan Para Utusan Allah

Jika ditelusuri, kisah para nabi dalam kitab-kitab suci memiliki alur yang menarik untuk dicermati: masing-masing menghadapi tahapan perjuangan yang, dalam

Millah Abraham Bukan Sinkretisme

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan kepada komunitas Millah Abraham adalah: bukankah mengakui Taurat, Injil, dan Al-Quran sekaligus sebagai