Ada anggapan umum bahwa setiap nabi besar dalam sejarah agama-agama samawi membawa ajaran yang sepenuhnya baru dan terpisah dari nabi-nabi sebelumnya. Anggapan ini wajar muncul karena setiap era kenabian memang melahirkan syariat dan tata cara ibadah yang berbeda. Namun, dalam pemahaman Millah Abraham, ada satu benang yang diyakini menghubungkan seluruh rangkaian kenabian tersebut.
Rujukan utamanya kembali pada Taurat — Kejadian 18: 18 – 19, Injil — Yohanes 8: 39, Al-Quran — An-Nahl [16]: 123 yang telah disinggung sebelumnya: Para nabi dan rasul Allah diperintahkan untuk mengikuti millah Ibrahim. Dalam pemahaman komunitas ini, perintah tersebut dibaca sebagai penegasan bahwa risalah yang dibawa oleh tiap-tiap nabi dan rasul Allah bukanlah ajaran yang sama sekali baru, melainkan kelanjutan dari jalan yang telah dirintis oleh Nabi Abraham dan diteruskan oleh para nabi sesudahnya.
Firman Allah dan pernyataan diri Abraham
Taurat — Kejadian 12: 3
וַאֲבָרֲכָה מְבָרְכֶיךָ וּמְקַלֶּלְךָ אָאֹר וְנִבְרְכוּ בְךָ כֹּל מִשְׁפְּחֹת הָאֲדָמָה׃
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Al Quran — Al-Baqarah [2]: 130
وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٰهِۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُۥۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَٰهُ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Dan tidak ada yang membenci millah Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri; sungguh Kami telah memilihnya di dunia, dan di akhirat dia benar-benar termasuk orang-orang saleh.
Dalam pemahaman ini, ayat-ayat tersebut ditafsirkan sebagai dorongan untuk memandang jalan Abraham sebagai rujukan bersama, bukan warisan eksklusif satu kelompok. Sejalan dengan itu, penganut Millah Abraham meyakini bahwa Nabi Muhammad dan Yesus secara terbuka menegaskan dirinya sebagai pengikut dan pelanjut jalan Abraham yang lurus dan murni dalam mengesakan Allah.
Landasan yang dirujuk
Taurat — Ulangan 6: 4 – 5
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד ׃ וְאָהַבְתָּ אֵת יְהוָה אֱלֹהֶיךָ בְּכָל־לְבָבְךָ וּבְכָל־נַפְשְׁךָ וּבְכָל־מְאֹדֶךָ׃
4Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 5Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
Injil — Markus 12: 29 – 30
απεκριθη ο ιησους οτι πρωτη εστιν ακουε ισραηλ κυριος ο θεος ημων κυριος εις εστιν και αγαπησεις κυριον τον θεον σου εξ ολης της καρδιας σου και εξ ολης της ψυχης σου και εξ ολης της διανοιας σου και εξ ολης της ισχυος σου
29Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Al Quran — Al-Anbiyā` [21]: 108
قُلْ اِنَّمَا يُوْحٰىٓ اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”.
Dari pemahaman inilah lahir gagasan bahwa para nabi—mulai dari Abraham, Musa, Isa, hingga Muhammad—dipandang sebagai satu rangkaian yang menyambung, ibarat dahan-dahan dari satu akar yang sama. Komunitas Millah Abraham memaknai kesamaan akar ini sebagai dasar untuk membuka dialog lintas keyakinan yang lebih substantif, alih-alih berhenti pada perbedaan permukaan semata.
Cara pandang semacam ini, dalam pemahaman internal komunitas, membawa pada satu ajakan reflektif: bahwa keturunan spiritual Abraham —baik yang selama ini mengidentifikasi diri sebagai Yahudi, Nasrani, maupun Muslim—pada dasarnya berangkat dari titik pijak historis dan teologis yang berdekatan. Ajakan untuk saling mengenali akar bersama ini dipahami sebagai jalan menuju dialog yang lebih tenang, bukan sebagai upaya menyeragamkan keyakinan setiap pihak.
Kabar baik yang ditawarkan dari cara pandang ini adalah kemungkinan terbukanya ruang percakapan yang lebih substantif antarumat beragama, sebab titik temu yang dicari bukan pada tataran ritual atau kelembagaan, melainkan pada nilai dasar ketundukan kepada Tuhan Yang Esa. Sebaliknya, ada pula peringatan yang perlu dicermati: melupakan akar bersama ini, menurut pemahaman komunitas ini, berisiko melahirkan sekat dan ketegangan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi jika sejarah kenabian dipahami secara utuh.
Sekali lagi, uraian ini disampaikan sebagai gambaran atas pemahaman internal yang diyakini oleh komunitas Millah Abraham tentang posisi Nabi Muhammad dalam rangkaian sejarah kenabian, bukan sebagai pernyataan yang bermaksud menilai keyakinan pihak mana pun. Informasi ini disediakan untuk pemahaman, dan keputusan untuk menelaahnya lebih jauh tetap berada di tangan pembaca.