Kata “muslim” sering kali dipahami semata sebagai identitas keagamaan formal—sebutan bagi mereka yang tercatat memeluk agama Islam. Namun, jika ditelusuri dari akar bahasanya, kata ini ternyata menyimpan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar label administratif atau afiliasi kelembagaan.
Kata muslim berasal dari akar kata aslama–yuslimu–islāman, yang berarti tunduk, patuh, dan berserah diri. Dalam pemahaman Millah Abraham, siapa pun—atau apa pun—yang tunduk pada sistem hukum yang telah Allah tetapkan bagi dirinya disebut muslim, dalam pengertian bahasa yang paling mendasar. Pemahaman ini membedakan antara din, yang dipahami sebagai sistem ketundukan yang bersifat menyeluruh, dengan agama sebagai institusi yang mengatur ranah keyakinan dan peribadatan.
Landasan yang dirujuk
Taurat — Ulangan 13: 4
אַחֲרֵי יְהוָה אֱלֹהֵיכֶם תֵּלֵכוּ וְאֹתוֹ תִירָאוּ וְאֶת־מִצְוֹתָיו תִּשְׁמֹרוּ וּבְקֹלוֹ תִּשְׁמָעוּ וְאֹתוֹ תַעֲבֹדוּ וּבוֹ תִדְבָּקוּן׃
TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.
Injil — Yohanes 5: 30
ου δυναμαι εγω ποιειν απ εμαυτου ουδεν καθως ακουω κρινω και η κρισις η εμη δικαια εστιν οτι ου ζητω το θελημα το εμον αλλα το θελημα του πεμψαντος με
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Al Quran — Āli-‘Imrān [3]: 84
قُلۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ
Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya kami menyerahkan diri.”
Dalam pemahaman komunitas ini, ayat tersebut dibaca sebagai penegasan bahwa predikat “berserah diri” (muslim) tidak dibatasi pada pengikut Nabi Muhammad semata, melainkan turut disematkan kepada seluruh nabi sebelumnya dan para pengikutnya yang tulus tunduk kepada Allah pada zamannya masing-masing. Ini bukan klaim tentang siapa yang lebih unggul, melainkan cara memandang bahwa esensi ketundukan kepada Sang Pencipta adalah satu, meski wujud syariat dan tata cara ibadahnya berbeda-beda mengikuti zaman.
Bukan Sekadar Status, Melainkan Sikap Hidup
Pemahaman ini membawa konsekuensi reflektif yang menarik: menjadi muslim, dalam makna aslinya, bukanlah sekadar pernyataan lisan atau keterangan pada dokumen identitas, melainkan sikap hidup yang nyata dan konsisten. Cara pandang semacam ini mengajak setiap orang—apa pun latar keyakinannya—untuk merenungkan kembali sejauh mana ketundukan yang ia yakini benar-benar tercermin dalam keseharian, bukan berhenti pada label semata.
Kabar baiknya, cara pandang ini membuka ruang untuk melihat kesamaan mendasar di antaraumat beragama yang mengaku beriman kepada Allah, tanpa perlu menegasikan perbedaan wujud syariat masing-masing. Ia mengajak pada kerendahan hati bahwa esensi penghambaan kepada Tuhan Yang Esa telah lama menjadi cita-cita bersama, jauh sebelum sekat-sekat kelembagaan agama terbentuk seperti yang dikenal hari ini.
Namun demikian, ada pula peringatan yang patut direnungkan: ketundukan yang hanya berhenti pada pengakuan verbal, tanpa disertai kesungguhan menjalankannya, berisiko menjadi kepatuhan yang kosong. Dalam pemahaman ini, kekeliruan semacam itulah yang justru dahulu berulang kali diperingatkan oleh para nabi kepada kaumnya masing-masing.
Pemaparan ini disampaikan sebagai bagian dari pemahaman internal yang diyakini komunitas Millah Abraham, bukan sebagai penilaian atas keyakinan pihak lain. Pembaca dipersilakan menimbang dan menelusurinya lebih lanjut sesuai keyakinan masing-masing.