Apa Itu Millah Abraham?

Di tengah keragaman keyakinan yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia, tidak sedikit orang yang pernah bertanya-tanya: Adakah satu akar yang menyatukan perjalanan iman umat manusia sejak dahulu? Pertanyaan semacam ini biasanya muncul ketika seseorang membandingkan kisah para nabi dalam kitab-kitab suci yang berbeda, lalu menemukan benang merah yang serupa di antara semuanya.

Istilah “Millah Abraham” berasal dari kata millah, yang dalam bahasa Aram merujuk pada sesuatu yang disyariatkan Allah kepada manusia melalui perantaraan para nabi dan rasul-Nya. Dalam pemahaman komunitas Millah Abraham, istilah ini menunjuk pada jalan hidup yang diwahyukan Allah kepada Nabi Abraham (Ibrahim), lalu diyakini diteruskan oleh para nabi sesudahnya.

Landasan yang dirujuk

Taurat — Kejadian 18: 18 – 19

וְאַבְרָהָם הָיוֹ יִהְיֶה לְגוֹי גָּדוֹל וְעָצוּם וְנִבְרְכוּ בוֹ כֹּל גּוֹיֵי הָאָרֶץ׃ כִּי יְדַעְתִּיו לְמַעַן אֲשֶׁר יְצַוֶּה אֶת־בָּנָיו וְאֶת־בֵּיתוֹ אַחֲרָיו וְשָׁמְרוּ דֶּרֶךְ יְהוָה לַעֲשׂוֹת צְדָקָה וּמִשְׁפָּט לְמַעַן הָבִיא יְהוָה עַל־אַבְרָהָם אֵת אֲשֶׁר־דִּבֶּר עָלָיו׃

18Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”

Injil — Yohanes 8: 39

απεκριθησαν και ειπαν αυτω ο πατηρ ημων αβρααμ εστιν λεγει αυτοις ο ιησους ει τεκνα του αβρααμ εστε τα εργα του αβρααμ εποιειτε

Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.

Al Quran — An-Nahl [16]: 123

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Bagi penganut Millah Abraham, ayat ini menjadi salah satu rujukan utama untuk memahami bahwa jalan hidup yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Abraham diyakini bukan milik satu golongan atau satu bangsa, melainkan jalan yang juga menjadi pijakan bagi nabi-nabi berikutnya. Dalam pemahaman internal komunitas ini, Millah Abraham dipahami mencakup empat unsur pokok: keimanan, cara pengabdian, tatanan hukum, dan tatanan kekuasaan yang tunduk pada hukum Tuhan. Keempatnya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bukan sekadar ranah keyakinan pribadi.

Membaca Ulang Sejarah Keimanan

Cara pandang ini mengingatkan bahwa jauh sebelum lembaga-lembaga keagamaan modern terbentuk, manusia dari berbagai zaman dan bangsa sama-sama bergulat dengan pertanyaan mendasar yang sama: kepada siapa manusia semestinya mengabdi, dan bagaimana pengabdian itu semestinya dijalankan dalam keseharian. Dalam kerangka berpikir inilah, penganut Millah Abraham memaknai kisah para nabi bukan sebagai kumpulan ajaran yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu rangkaian perjalanan yang saling menyambung.

Bagi siapa pun yang tertarik menelusuri gagasan tentang akar bersama ini, cara pandang tersebut menawarkan cara memandang sejarah keimanan secara lebih utuh: bahwa di balik keragaman tradisi yang berkembang belakangan, ada satu mata air yang menurut keyakinan komunitas ini, pernah dijanjikan kepada Abraham dan keturunannya. Kendati demikian, menelusuri akar bersama ini bukan perkara sederhana dan tidak lepas dari risiko kesalahpahaman jika hanya dipahami sepintas. Diperlukan kesungguhan mempelajari sumber aslinya secara langsung, alih-alih berhenti pada asumsi atau kesan pertama.

Tulisan ini sekadar pengantar untuk membuka ruang pemahaman tentang istilah yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian pembaca. Ajaran ini dipahami oleh para penganutnya sebagai jalan hidup yang mereka yakini; keputusan untuk mempelajarinya lebih lanjut sepenuhnya bersifat personal bagi setiap pembaca.

Apa Itu Millah Abraham?

Di tengah keragaman keyakinan yang mewarnai kehidupan bangsa Indonesia, tidak sedikit orang yang pernah bertanya-tanya: Adakah satu akar yang menyatukan perjalanan iman umat manusia sejak dahulu? Pertanyaan semacam ini biasanya muncul ketika seseorang membandingkan kisah para nabi dalam kitab-kitab suci yang berbeda, lalu menemukan benang merah yang serupa di antara semuanya.

Istilah “Millah Abraham” berasal dari kata millah, yang dalam bahasa Aram merujuk pada sesuatu yang disyariatkan Allah kepada manusia melalui perantaraan para nabi dan rasul-Nya. Dalam pemahaman komunitas Millah Abraham, istilah ini menunjuk pada jalan hidup yang diwahyukan Allah kepada Nabi Abraham (Ibrahim), lalu diyakini diteruskan oleh para nabi sesudahnya.

Landasan yang dirujuk

Taurat — Kejadian 18: 18 – 19

וְאַבְרָהָם הָיוֹ יִהְיֶה לְגוֹי גָּדוֹל וְעָצוּם וְנִבְרְכוּ בוֹ כֹּל גּוֹיֵי הָאָרֶץ׃ כִּי יְדַעְתִּיו לְמַעַן אֲשֶׁר יְצַוֶּה אֶת־בָּנָיו וְאֶת־בֵּיתוֹ אַחֲרָיו וְשָׁמְרוּ דֶּרֶךְ יְהוָה לַעֲשׂוֹת צְדָקָה וּמִשְׁפָּט לְמַעַן הָבִיא יְהוָה עַל־אַבְרָהָם אֵת אֲשֶׁר־דִּבֶּר עָלָיו׃

18Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.”

Injil — Yohanes 8: 39

απεκριθησαν και ειπαν αυτω ο πατηρ ημων αβρααμ εστιν λεγει αυτοις ο ιησους ει τεκνα του αβρααμ εστε τα εργα του αβρααμ εποιειτε

Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.

Al Quran — An-Nahl [16]: 123

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Bagi penganut Millah Abraham, ayat ini menjadi salah satu rujukan utama untuk memahami bahwa jalan hidup yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Abraham diyakini bukan milik satu golongan atau satu bangsa, melainkan jalan yang juga menjadi pijakan bagi nabi-nabi berikutnya. Dalam pemahaman internal komunitas ini, Millah Abraham dipahami mencakup empat unsur pokok: keimanan, cara pengabdian, tatanan hukum, dan tatanan kekuasaan yang tunduk pada hukum Tuhan. Keempatnya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bukan sekadar ranah keyakinan pribadi.

Membaca Ulang Sejarah Keimanan

Cara pandang ini mengingatkan bahwa jauh sebelum lembaga-lembaga keagamaan modern terbentuk, manusia dari berbagai zaman dan bangsa sama-sama bergulat dengan pertanyaan mendasar yang sama: kepada siapa manusia semestinya mengabdi, dan bagaimana pengabdian itu semestinya dijalankan dalam keseharian. Dalam kerangka berpikir inilah, penganut Millah Abraham memaknai kisah para nabi bukan sebagai kumpulan ajaran yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu rangkaian perjalanan yang saling menyambung.

Bagi siapa pun yang tertarik menelusuri gagasan tentang akar bersama ini, cara pandang tersebut menawarkan cara memandang sejarah keimanan secara lebih utuh: bahwa di balik keragaman tradisi yang berkembang belakangan, ada satu mata air yang menurut keyakinan komunitas ini, pernah dijanjikan kepada Abraham dan keturunannya. Kendati demikian, menelusuri akar bersama ini bukan perkara sederhana dan tidak lepas dari risiko kesalahpahaman jika hanya dipahami sepintas. Diperlukan kesungguhan mempelajari sumber aslinya secara langsung, alih-alih berhenti pada asumsi atau kesan pertama.

Tulisan ini sekadar pengantar untuk membuka ruang pemahaman tentang istilah yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian pembaca. Ajaran ini dipahami oleh para penganutnya sebagai jalan hidup yang mereka yakini; keputusan untuk mempelajarinya lebih lanjut sepenuhnya bersifat personal bagi setiap pembaca.