Konsep Asas Ajaran Millah Abraham

Mayoritas ulama meyakini bahwa setiap Rasulullah membawa agama atau sistem hukum baru yang berbeda dari Rasul sebelumnya, menggantikannya dengan yang lebih sempurna. 

Sebagai contoh, apa yang Allah wahyukan kepada Nabi Ibrahim berbeda dengan apa yang diwahyukan kepada Nabi Musa.

Mayoritas komunitas agama surgawi masih meyakini bahwa wahyu yang diterima Nabi Musa tidak sama dengan wahyu yang diterima Nabi Isa, dan lebih jauh lagi, ajaran yang disampaikan kepada Nabi Muhammad adalah ajaran yang lebih sempurna daripada ajaran para Rasul sebelumnya.

Sekalipun terdapat kemiripan antara ajaran para Nabi dan Rasul, kemiripan tersebut dianggap berasal dari aspek konsep teologis di mana mereka semua beriman kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Namun, dari aspek implementasi, ketiga agama ini mempraktikkan ajaran Tuhan dengan cara yang berbeda.

Parahnya lagi, setiap agama merasa bahwa agama mereka lebih benar daripada agama-agama surgawi lainnya. 

Di mata masyarakat umum, mereka bertindak seolah-olah dapat hidup bersama dan sepakat mengenai konsep iman kepada Allah sesuai dengan pemahaman masing-masing.

Namun di sinagoge masing-masing, mereka saling mencela, memfitnah, dan menyebut satu sama lain sebagai orang kafir.

Jika kita berpikir menggunakan akal sehat, doktrin agama ini dapat dipertanyakan karena tidak memiliki dasar wahyu yang kokoh. 

Bukankah semua Utusan Allah diutus untuk tujuan yang sama, yaitu mengembalikan manusia kepada fitrah asalnya, untuk menjadi hamba Allah, Tuhan Yang Maha Esa?

Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan tertentu agar manusia menjalankan fungsinya sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya.

Setiap Rasul diutus untuk membawa petunjuk dan sistem hukum yang benar (din al-haqq) untuk membimbing manusia kembali ke jalan hidup yang benar (fitrah) ketika mereka menyimpang dan mengikuti sistem hidup yang salah.

Tujuan ini dinyatakan dalam firman Allah dalam Surah Asy-Syaf (61:9): Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar (sistem hukum) untuk menaklukkannya atas semua agama (sistem hukum), meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

Pada kenyataannya, semua ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul dari waktu ke waktu adalah ajaran Allah yang sama, tidak pernah berubah atau berkembang dari tidak sempurna menjadi sempurna.

Kesamaan dalam ajaran-ajaran ini tidak hanya terletak pada aspek keimanan kepada Allah, tetapi juga dalam hal hukum, syariat, dan ibadah.

Kebenaran sejati berasal dari Tuhan, dan ciri khas kebenaran itu adalah bahwa ia tidak pernah berubah menurut waktu dan tempat.

Sistem kehidupan yang benar (din al-qayyim), seperti Millah Ibrahim yang hanif (lurus dan murni), telah dianut oleh semua Nabi dan Rasul sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad dan seterusnya di era ini oleh generasi Millah Ibrahim. 

Para Rasul, Nabi, dan orang-orang yang jujur, syuhada, dan saleh adalah sekelompok orang yang telah menerima berkah dari Allah. Mereka bukanlah orang-orang yang berada di jalan yang salah atau yang telah mendatangkan murka-Nya.

Cara hidup mereka dapat ditelusuri kembali ke sejarah para Nabi dan Rasul sebagaimana diceritakan dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Mereka semua dibimbing oleh ajaran Millah Ibrahim, yang merupakan sistem kehidupan yang benar. 

Ajaran Millah Abraham bukanlah sesuatu yang baru, melainkan ajaran yang telah diikuti oleh semua Nabi dan Rasul Allah, termasuk Nabi Muhammad. 

Kehadiran generasi Millah Ibrahim di kepulauan ini bukanlah untuk memperkenalkan agama baru atau sistem hukum baru, melainkan untuk melanjutkan misi Tuhan Semesta Alam dan mengajak manusia kembali kepada agama Allah yang sejati, yaitu Hanif Millah Ibrahim, atau Islam Hanif. 

Mari kita telaah secara mendalam apa itu Millah Abraham, beserta ajaran-ajaran dasarnya yang dipahami dan dipercaya oleh setiap pengikut atau generasi Millah Abraham.

Bagikan

Artikel terkait

Pencarian Baldah Thoyyibah

Pencarian Baldah Thayyibah: Misi Risalah Millah Abraham Sebagai Bangkitnya Khilafah di Nusantara Perjuangan Nabi Muhammad (saw) tidak pernah berhenti meskipun

Konsep Asas Ajaran Millah Abraham

Mayoritas ulama meyakini bahwa setiap Rasulullah membawa agama atau sistem hukum baru yang berbeda dari Rasul sebelumnya, menggantikannya dengan yang